By Jalaluddin Rumi
Orang Cina berkata; “Kami perupa yang lebih utama”
Orang Yunani berkata; “Punya kamilah semua yang istimewa”
Sultan berkata; “Aku akan menguji kalian berdua”
Mana diantaramu yang benar
Orang cina dan orang yunani mulai bertikai
Pada orang yunani berdebat itu pun usai
Orang cina berkata; “Buatkan kamar khusus bagi kami”
Dan buat kamu, satu kamar lagi seperti kamar kami.
Ada dua kamar bersebelahan, pintu-pintunya berhadapan
Kamar satu untuk orang cina, satu lagi orang yunani punya
Orang cina memohon raja untuk memberinya seratus warna
Raja membuka gudangnya, apapun yang dimintanya ada disana
Setiap pagi, dengan anugerahnya, diberikan berbagai warna
Dari gudang perbendaharaan negara kepada perupa dari cina
Orang yunani berkata; “Kami tidak perlu warna, tidak butuh cat untuk karya kami, kami hanya butuh kuas penghilang karat.
Pintu mereka tutupkan dan dinding tembok mereka lap
Sehingga seperti langit. Tembokpun putih bersih gemerlap
Dari banyak warna ke tanpa warna ada satu jalan
Warna seperti awan; tanpa warna seperti rembulan
Apapun yang indah dan cemerlang yang kaulihat di awan
Ia pasti berasal dari mentari, gemintang dan bulan
Ketika orang-orang cina itu menyelesaikan karyanya
Mereka menabuh genderang karena sukacita
Raja datang melihat gambar-gambar disitu
Indahnya pemandangan membuat akalnya buntu
Sesudah itu, ia datang menemui si yunani
Mereka mengangkat tirai yang menghalangi
Pantulan gambar-gambar cina dan semua lukisan
Mengenai tembok yang telah dibersihkan dari semua kotoran
Apa yang terlihat disana, disini tampak lebih indah sehingga semua mata terbelalak
Orang yunani itu para sufi duhai ayah
Mereka berilmu tanpa belajar, tanpa buku, tanpa khutbah
Tetapi mereka telah menyucikan hati
Dari rakus, nafsu, tamak dan benci
Tidak meragukan lagi, cermin bersih itulah, hati yang menerima citra-citra tak berjumlah.
Diambil dari: THE ROAD TO ALLAH by Jalaluddin Rakhmat

Jalan menuju tuhan, dikatakan sebanyak makhluk tuhan. Akan tetapi, betapa beresikonya orang yang menempuh jalan ini tanpa petunjuk, tanpa pengetahuan, tanpa peta. Dan perjalanan manusia adalah perjalanan yang sekali jadi; tak mengenal pengulangan.
Maka, kita ingin hidup sekali yang berarti-seperti kata Chairil Anwar:
“Sekali berarti, sesudah itu mati”
Bukunya bagus (must read juga yah!), diuraikan dengan bahasa sederhana ‘n enak dibaca. Ga bikin berasa berat dan jauuuuuh banget dari yang banyak dosa kaya’ gw.
Ingat ya, yang ni must read juga! ^_^