Jadi melow dan merasa lemah.
Saya memang paling malas sama wawancara psikologis. Malas masa lalu dikorek-korek segitu detailnya.
Yang lalu biarlah berlalu, pak!
Apa lagi kalau ditanya soal kerusuhan Ambon ’99 lalu....
Bukan. Bukan karena trauma apa lagi dendam kepada siapapun!
*PEACE YA GUY’S... ^_^*
Tapi karena tiap kali bicara soal kerusuhan yang kebayang dan keingat adalah gimana Ibu-Bapak saya dengan seketika bisa berubah menjadi... ... ... entahlah. Sesuatu yang luar biasa hanya untuk melindungu kami, anak-anaknya.
Mengingat apa yang mereka lakukan malam itu dan malam-malam berikutnya... ... ....
Ya, saya masih susah menjelaskannya.
Karena itu, kepada Bapak-Bapak interviewer-pun, saya cuma bisa bilang....
”saya tidak tau pak, gimana menjelaskannya. Karena sampai sekarang saya masih belum bisa menemukan padanan kata yang tepat untuk menjelaskan bagaimana pengorbanan orang tua saya waktu itu.”
........
Akhirnya saya dibebaskan dari satu jam yang menyiksa dengan kata-kata yang cukup memberi semangat.
Saya harap ini pertanda baik... ;).
Ufh.... nafas lega itu keluar juga pas masuk ke ruang tunggu, dan semua mata memandang ke arah saya.
Ho...ho... menunggu bocorankah...?
Tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka.
Ada apa ini...?
Ahh... saya lupa, mungkin karena sudah lama tidak.
Muka saya pasti memerah dan mata saya berkaca-kaca.
Iya, saya gagal menyembunyikan tangis yang ngegantung itu!!
Adduh!!! ’:/
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment